Sunday, November 7, 2010

Siapkan Reuni Akbar 80 Tahun


SEKOLAH Dasar (SD) Hua Xiou menyimpan berjuta kenangan yang tidak akan dilupakan alumninya. Karena itu, untuk mengenang sekolah yang bubar pada 1966 tersebut, para alumnus berencana mengadakan reuni akbar.

Reuni yang bakal dihelat pada Oktober mendatang itu bertajuk 80 Tahun SD Hua Xiou. "Tahun ini sekolah kami berusia delapan puluh tahun. Sekolah kami didirikan pada 1930," tutur Sukowijoyo, alumnus sekaligus mantan guru SD Hua Xiou.

Menurut lelaki 76 tahun itu, ide reuni tersebut berasal dari para alumnus. Gagasan tersebut langsung disambut baik karena dianggap bermanfaat. Terutama, menyambung kembali tali silaturahmi di antara siswa yang lama tidak bersua.

Saat ini, kata kakek lima cucu tersebut, masih ada separo alumnus yang tidak pernah berkumpul. Mereka diharapkan bisa bersua dalam reuni akbar tersebut. "Jumlah alumnus kami sejak 1948 sekitar tiga ribu orang," katanya. (may/c8/soe)

Saturday, November 6, 2010

Tampil di TV, Bikin PD


AWALNYA, anggota Senioret Global Gardena dan Lavender tidak memiliki keahlian olahraga dan menari berderet. Seiring dengan berjalannya waktu, kemampuan mereka untuk melakukan hal tersebut makin berkembang. Bahkan, mereka sering tampil di televisi untuk unjuk kebolehan.

''Sering menari di acara lagu-lagu nostalgia zaman dulu,'' ungkap Tri Rahayu Soesanto, ketua Senioret Global Gardena.

Sering tampil di acara televisi membawa dampak positif. Setidaknya, rasa percaya diri bertambah. Semangat untuk latihan menyala. ''Sebenarnya banyak yang ingin bergabung, tapi kami tidak bisa menerima,'' tegas wanita 68 tahun itu. Alasannya, tempat latihan terbatas. Maklum, sekarang anggota di dua kelompok senioret tersebut mencapai 130 orang. (may/c7/nda)

 

Friday, November 5, 2010

Banting Setir setelah Kecelakaan


MALANG melintang di dunia marketing tidak lantas menjadikan Junaidi sebagai seorang manajer marketing. Sekarang dia malah membuka usaha kuliner terang bulan bangka resep dari keluarga. ''Semua ini terjadi karena kecelakaan,'' ungkapnya.

Saat masih bekerja di bidang marketing, pria 50 tahun itu mengalami kecelakaan. Ketika mengendarai sepeda motor, dia dihantam keras oleh sebuah mobil. Hantaman tersebut tepat mengenai paha kirinya. Bagian itu pun langsung patah menjadi tiga bagian.

''Selama setahun saya terbaring di tempat tidur,'' ujarnya mengenang peristiwa yang terjadi pada 1998 tersebut.

Pada saat terbaring, dia mulai merenung tentang pekerjaan yang akan dilakukan ke depan. Sebab, setelah kecelakaan tersebut, dunia marketing yang membutuhkan kerja keras di jalan bukan pilihan. Satu-satunya pekerjaan yang terlintas di pikiran adalah kembali membuka usaha terang bulan.

''Setelah sembuh, saya langsung membuka usaha di Jakarta,'' katanya. Ternyata, usaha yang dijalankan lancar. Hingga akhirnya, dia hijrah ke Surabaya bersama keluarga. Lantas, dia mengembangkan usahanya tersebut. (may/c6/nda)

Thursday, November 4, 2010

Penerang bagi Yang Kekurangan


PEMILIHAN nama Lions Club Surabaya Pelita memiliki makna yang sangat mendalam bagi para anggotanya. Setidaknya, dengan nama tersebut mereka sadar bahwa kegiatan yang dilakukan harus benar-benar bermanfaat. Pun, mampu menjadi penerang bagi masyarakat yang kekurangan.

''Layaknya pelita, senantiasa menerangi sesuatu yang gelap dan suram dengan cahayanya,'' ungkap Erwina Darmastuti, direktur Lions Club Surabaya Pelita.

Bahkan, menurut dia, pembentukan organisasi yang bergerak di bidang sosial itu juga penuh sejarah. Deklarasi pembentukan dilaksanakan di atas kapal Surabaya-Madura. Hal itu dilakukan bukan karena mereka ingin memiliki kenangan dalam pendirian. Lebih dari itu, peristiwa tersebut diharapkan mampu menggugah hati para anggotanya. Dengan begitu, mereka selalu mengutamakan kegiatan sosial. ''Meski keadaan tidak mudah, tapi selalu ada cahaya yang membuat kami bersemangat,'' imbuhnya.

Rupanya, hal itu telah dipahami semua anggota. Nah, dalam melakukan kegiatan, Lions Club Surabaya Pelita selalu mengedepankan asas untuk membantu sesama. Dengan ringan tangan, para anggota menyumbangkan tenaga, pikiran, hingga dana. Mereka berusaha mengeluarkan ide-ide baru demi menolong orang. (may/c13/nda)

Wednesday, November 3, 2010

Honor Bukan Yang Utama


USIA lebih dari lima tahun menjadikan Grup Kasidah Rohmatul Ummah semakin matang. Kemampuan mereka makin bertambah. Tidak heran, kelompok itu sering tampil di berbagai kegiatan.

Selain halalbihalal, grup yang terdiri atas para perempuan itu kerap diundang dalam acara pernikahan, selamatan kelahiran, hingga di acara sebuah bank. ''Kami juga pernah mengikuti lomba dua kali,'' ungkap Widji Lestari, ketua Grup Kasidah Rohmatul Ummah.

Dalam lomba tersebut, mereka berhasil meraih juara favorit. Banyak orang yang menyukai penampilan grup kasidah itu. ''Kami selalu berupaya tampil maksimal dalam segala kegiatan,'' imbuh wanita 60 tahun tersebut.

Setiap manggung, mereka memakai kostum yang memukau dan menarik perhatian para penggemarnya. ''Tapi, kami tidak pernah mematok bayaran,'' tegas Widji.

Grup kasidah yang rutin latihan seminggu sekali itu memang tidak pernah mengutamakan honor. Bisa tampil, menghibur banyak orang, dengan tujuan syiar mampu membuat mereka bahagia. ''Kalau ditanya bayaran, kami tidak menyebutkan nominal,'' katanya. ''Pokoknya, bisa buat laundry seragam,'' lanjut Widji. (may/c13/nda)

Tuesday, November 2, 2010

Sedih Ditinggal Sahabat


SEJATINYA, persahabatan para guru sejak 30 tahun lalu itu awalnya terdiri atas lima orang. Namun, seorang sahabat mereka, Djauharini Salehati, mendahului mereka untuk menghadap Sang Pencipta. ''Teman saya itu, orangnya sangat baik,'' kenang Indah Purwaningsih.

Kebaikan itulah yang masih dikenang oleh Indah dan rekan-rekan. Bahkan, guru ekonomi tersebut merasa sangat kehilangan ketika sahabatnya itu meninggal. ''Kami sedih sekali karena ditinggal pergi,'' imbuh Sida.

Maklum, almarhumah sebelumnya menderita sakit. Selama delapan bulan mereka menemani Djauharini. ''Meski sakit, dia tetap mengajar ke sekolah,'' katanya.

Hal itulah yang menjadikan para sahabatnya salut. Mereka kagum dengan semangat yang dimiliki guru bahasa inggris tersebut. Meski sedang sakit keras, dia tetap memikirkan nasib murid-muridnya. ''Saat dia meninggal, kami juga mengantar sampai ke makam,'' ujar wanita 55 tahun itu.

Sida menambahkan, di keompok sahabat tersebut, masing-masing memiliki keunggulan. Mereka saling melengkapi satu dan lainnya. Sida, misalnya, ahli membuat kerajinan. Mariana yang paham ilmu agama sering menjadi ustadah bagi mereka. Sedangkan Indah yang senang menulis sering berbagi cerita dan pengalaman. ''Kalau tentang kesehatan, tanyanya ke Bu Pudji,'' tutur Mariana. (may/c10/nda)

Monday, November 1, 2010

Empat Sekawan, Sesama Guru yang Bersahabat

[ Jum'at, 03 September 2010 ]
Empat Sekawan, Sesama Guru yang Bersahabat
SAHABAT adalah orang yang selalu bersama-sama dalam suka maupun duka. Memecahkan permasalahan secara sukarela berdasar pemikiran yang berbeda. Hal itulah yang selama ini dipahami oleh Indah Purwaningsih dan tiga sahabatnya. Karena pemahaman tersebut, empat guru yang mengabdi di SMA Negeri 3 Surabaya itu menjadi sahabat sejati. ''Sejak 1980 kami bersama,'' ungkap Indah.

Itu berarti, hingga sekarang Indah, Sida Muhammad, Mariana, dan Pudjiningsih telah berkumpul selama 30 tahun. Selama itu pula, para alumnus IKIP Surabaya (sekarang Unesa) tersebut berjalan beriringan dalam kehidupan. Empat orang pendidik itu telah melalui segala hal bersama-sama. ''Sejak sebelum menikah sampai sekarang masih sering jalan,'' tutur wanita 56 tahun tersebut.

Mereka pertama berjumpa di sekolah dalam keadaan masih lajang. Hingga akhirnya, satu per satu berumah tangga. Meski telah memiliki suami dan anak-anak, mereka tidak lantas berpisah dan mematahkan persahabatan. ''Keluarga kami sudah tahu tentang hubungan kami ini,'' ujar Sida.

Bahkan, ketika Jumat atau akhir pekan sekolah, para suami dan anak sudah paham jika istri dan ibunya pulang sore. ''Pasti jalan-jalan dengan gengnya,'' tutur perempuan 55 tahun itu yang menirukan ucapan sang suami, lantas tertawa. Memang, jalan-jalan merupakan salah satu cara menambah keakraban. ''Selain di sekolah, kami tambah akrab karena jalan-jalan,'' lanjut guru pendidikan seni tersebut.

Tidak sekadar jalan-jalan untuk mencari kesenangan, mereka pelesir guna menambah pengetahuan. Tidak jarang, mereka mengajak anak didik. Misalnya, lokasi alam yang dapat digunakan sebagai bahan penelitian. ''Alhamdulillah, murid kami pernah menjadi juara nasional di bidang penelitian,'' katanya.

Kepedulian Indah, Sida, Mariana, dan Pudjiningsih tidak sebatas itu. Mereka juga sangat peka dengan kondisi anak didiknya. Empat sekawan itu tidak segan-segan mengeluarkan uang pribadi untuk membantu murid yang membutuhkan. ''Kalau ada rezeki lebih, kami terbiasa menyisihkan untuk anak-anak. Ya, dititipkan aja ke Bu Indah yang kebagian mengaturnya,'' imbuh Mariana.

Tak heran, para guru tersebut selalu dicintai siswa. Bahkan, mereka pernah mendapatkan reward dari mereka. Sida, Mariana, dan Pudjiningsih pernah umrah bersama atas sponsor murid yang sukses. ''Kami saling memberi semangat, kalau ada yang malas, dibantu,'' tutur Pudjiningsih.

Indah pun merasakan hal yang sama. Wanita yang memiliki banyak anak asuh itu memetik buah dari tindakannya. Oleh salah seorang anak asuhnya yang tinggal di Malaysia, dia dan keluarga diundang ke sana. ''Saya dikirimi tiket, puas jalan-jalan di Malaysia,'' ungkapnya. ''Menurut kami, ini semua reward dari Allah.'' (may/c10/nda)

Tentang Empat Sekawan

Indah Purwaningsih

Lahir di Tulungagung, 24 November 1954

Guru ekonomi SMAN 3 Surabaya

Sida Muhammad

Lahir di Banyuwangi, 23 Mei 1955

Guru pendidikan seni SMAN 3 Surabaya

Nama Mariana

Lahir di Surabaya, 22 Oktober 1956

Guru matematika SMAN 3 Surabaya

Pudjiningsih

Lahir di Surabaya, 15 April 1957

Guru biologi SMAN 3 Surabaya

Persahabatan yang langgeng

Setiap hari bertemu di sekolah yang sama.

Menjalin persahabatan sejak 30 tahun lalu.

Sering bepergian bersama, terutama saat sekolah pulang awal.

Sebagaimana pertemanan lain, pernah bertengkar, tapi tidak serius.