Sunday, November 14, 2010

Indah Dwi Pertiwi Hibur TKI di Taiwan


JAKARTA - Pelantun tembang Baru Aku Tahu Cinta Itu Apa Indah Dwi Pertiwi patut berbangga. Meski dia baru punya satu album solo, Hipnotis, namanya sudah langsung melejit. Banyak tawaran manggung yang datang kepadanya. Sekarang Indah tengah menyiapkan konser di Taiwan yang dilangsungkan bulan depan.

"Alhamdulillah, meski baru satu album, aku sudah ada undangan ke Taiwan," katanya saat ditemui di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Selasa lalu (31/8).

Bisa tampil di luar negeri dengan membawakan lagu-lagu sendiri merupakan mimpi yang seperti menjadi nyata bagi Indah. "Dipikir secara logika, mengingat jam terbangku yang masih baru begini, rasanya nggak mungkin. Tapi, ternyata, ada juga yang mengundang," tambahnya

Begitu mendapatkan tawaran tersebut, Indah semula merasa kaget. Tapi, tak dimungkiri, ada juga perasaan bangga. "Di Indonesia saja belum banyak kota yang aku singgahi," katanya.

Di Taiwan nanti Indah menghibur para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang sedang bekerja di sana. "Ini akan menjadi show pertamaku ke luar negeri," ujar perempuan kelahiran Bogor, 30 Januari 1991, itu. (ash/c10/ayi)

Saturday, November 13, 2010

Jessica Alba dan Natalie Portman Tampil Menawan di Festival Film Venice


VENICE - Jangan pernah pakai warna merah bila melintas di karpet merah. Peringatan itu berlaku di kalangan artis Hollywood. Namun, Natalie Portman, 29, berani menabrak aturan fashion tak tertulis tersebut. Ketika menghadiri pembukaan Festival Film Venice Rabu malam waktu setempat (1/9), Portman mengenakan gaun merah menyala buatan Rodarte.

Hasilnya tak sia-sia. Salah seorang bintang film Star Wars itu begitu menawan dengan gaun itu. Portman datang untuk promo film barunya, Black Swan.

Namun, ada pesaing serius soal penampilan malam itu untuk Portman. Dia adalah pemeran Sue dalam Fantastic Four, Jessica Alba. Perempuan kelahiran 1981 tersebut tampil cantik dalam balutan gaun mini hitam berekor. Alba datang untuk mempromosikan film terbarunya, Machete.

Festival film tersebut diikuti 22 film dari sebelas negara. Kendati tak seterkenal Oscar maupun Cannes, kualitas film dalam helatan itu tidak diragukan. Quentin Tarantino sebagai ketua dewan juri festival tersebut mengakui hal itu. "Daftar film yang harus saya seleksi termasuk yang paling liar, paling hebat, dan paling bervariasi yang pernah saya lihat," tutur sutradara Inglourious Basterds tersebut. (c11/ayi)

Friday, November 12, 2010

Sang Pemimpi jadi Pembuka Zimbabwe International Film Festival

[ Jum'at, 03 September 2010 ]

Tak Terpengaruh Kasus Ariel

JAKARTA - Kendati salah seorang pemainnya mendekam di penjara, Sang Pemimpi (The Dreamer) tak berhenti berkarya di kancah internasional. Film yang dibintangi Nazril Irham atau Ariel itu terpilih sebagai pembuka di Zimbabwe International Film Festival (ZIFF) ke-13 yang berlangsung pada 27 Agustus hingga lusa, 5 September, di Arts Theather, Avondale.

Sang Pemimpi yang diproduksi Miles Films itu menjadi sajian pertama di antara sejumlah film kiriman 24 negara peserta. Seperti halnya di tanah air, film yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata tersebut juga menuai pujian penonton, terutama karena sarat unsur mendidik dan penyajian cerita realita kehidupan masyarakat sederhana meraih masa depan.

Mira Lesmana, selaku produser Sang Pemimpi, tak hadir dalam festival tersebut. Mewakili Miles Films, ada Landung Laksono Simatupang (pemeran Pak Mustar) dan Ignatius Widjajanto (pemeran Bang Zaitun) yang menghadiri acara pembukaan ZIFF pada 27 Agustus itu.

Andanari Yogaswari, publicist Miles Films, mengatakan, pihaknya sangat bangga dengan ditunjuknya Sang Pemimpi sebagai open screening ZIFF. Itu berarti akan ada banyak orang yang melihat hasil karya tersebut. ''Mulai produser hingga artis internasional bisa menonton Sang Pemimpi. Ini menjadi momen spesial bagi kami. Tidak sia-sia perjuangan kami,'' kata Andanari.

Ini merupakan kali kedua keikutsertaan Miles Films di ZIFF. Tahun lalu Laskar Pelangi (Ranbow Troops) juga ditunjuk KBRI Harare untuk mewakili Indonesia dalam festival film internasional tersebut. Hanya, sebelumnya, Laskar Pelangi menjadi film peserta saja, tidak sampai menjadi pembuka.

Mengenai kasus video mesum yang menimpa Ariel, Andanari tak menampik tersebar juga hingga Benua Afrika. Akan tetapi, hal tersebut tidak menjadi berita heboh. ''Tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan film Sang Pemimpi,'' ungkapnya.

Tahun ini Sang Pemimpi mempunyai jadwal road show yang padat di berbagai festival film internasional. September ini saja, ada tiga festival film yang diikuti, yaitu OzAsia Film Festival di Adelaide, Australia; Indonesian Festival di Newa Zealand; serta Fokus on Asia International Film Festival di Fukuoka, Jepang. ''Sampai Januari tahun depan, masih sibuk,'' ujar Andanari.

Thursday, November 11, 2010

Berkebun dan Beternak untuk Ibadah


SIBUK sebagai pemangku tak membuat Wayan Yasa meninggalkan hobinya. Yakni, berkebun dan memelihara ayam. Hasil kebun buah-buahan dan ternak ayam itu tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi. Hasilnya bisa juga digunakan sebagai sesajen pada upacara-upacara keagamaan. ''Seperti, upacara Galungan yang diperbolehkan menggunakan sesajen ayam panggang,'' ungkap Wayan.

Pria 64 tahun itu menceritakan, kegiatan berkebun dan mengembangbiakkan ayam kampung dilakukan di pekarangan belakang rumahnya. Di tempat seluas 8 x 10 meter persegi tersebut, dia menghabiskan waktu di rumah. Jika tidak sedang melayani umat di pura, ayah tiga anak itu menyediakan waktu untuk mengurus tanaman dan ayam. ''Senang sekali saat melihat buah-buahan berbuah,'' ujarnya.

Memang, saat ini tanaman di kebun miliknya sudah cukup umur. Tanaman-tanaman tersebut ditanam ketika dia masih muda. Sekarang Wayan dan keluarga tinggal memetik hasilnya. Selain dipakai dalam upacara keagamaan, hasilnya dinikmati bersama keluarga maupun kerabat. (may/c13/nda)

Wednesday, November 10, 2010

Semangat Sukseskan Target


LIONS Club Surabaya Srikandi memang beranggota para perempuan. Namun, kegiatan sosial yang mereka lakukan cukup banyak. Status sebagai perempuan tidak menghalangi mereka untuk tetap aktif membantu sesama yang membutuhkan. ''Program selalu kami jalankan sesuai dengan sasaran,'' ungkap Lianawati Tjokrohartono, presiden Lions Club Surabaya Srikandi.

Bahkan, menurut dia, semua anggota selalu aktif dalam mengikuti acara yang diselenggarakan. Misalnya, kegiatan buka puasa bersama anak panti. Mereka tidak semua beragama Islam. Namun, para anggota sangat antusias mengikuti rangkaian acara yang ditetapkan. Bahkan, saat mendengarkan ceramah dari ustad pun, mereka terlihat tenang. ''Semangat untuk menyukseskan program yang ditetapkan ada pada semua diri anggota,'' ungkap wanita 50 tahun itu.

Semangat itulah yang menjadikan Lianawati salut kepada anggotanya. Bahkan, setelah 18 tahun organisasi berdiri, jumlah anggota terus bertambah. Mereka ingin memberikan yang terbaik untuk organisasi. Tanpa mengenal lelah. Yang penting, mereka dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Juga, meringankan beban mereka yang kesusahan. (may/c10/nda)

Tuesday, November 9, 2010

Pria Kaum Minoritas


DI komunitas Sasana Senam Pagi Porpi Ranting Fira 51, peserta wanita sangat mendominasi. Sebaliknya, kaum pria menjadi minoritas. Jumlahnya tidak sampai sepuluh persen. Hanya enam hingga tujuh orang yang aktif senam setiap pagi. ''Kadang hanya lima pria yang datang,'' ungkap Endro Hariadi, wakil ketua Sasana Senam Pagi Porpi Ranting Fira 51.

Meski jumlah peserta pria sangat sedikit, peran mereka cukup besar. Setidaknya untuk pekerjaan berat menjadi bagian pria. Seperti, mengangkat dan menata sound system untuk senam. Juga, mengembalikannya ketika semua sudah selesai senam. ''Jadi, datangnya harus awal. Pulang juga tidak boleh duluan,'' imbuhnya.

Misalnya, Endro yang sering melakukan tugas tersebut. Meski tidak memperoleh imbalan materi, dia tetap senang menjalankannya. Sebab, dia sadar bahwa tugas yang dilakukan merupakan tugas mulia. Yaitu, bermanfaat bagi banyak orang yang membutuhkan senam untuk menjaga kebugaran.

Jadi, aktivitas yang dilakukan bukan kepentingan pribadi. ''Semua anggota di sini juga senang memberikan bantuan,'' ungkap kakek tujuh cucu itu. ''Sebagian ibu-ibu ikut menata sound system kalau kami belum datang,'' sambung bapak empat anak itu. (may/c13/nda)

Monday, November 8, 2010

Enggan Terserang Post Power Syndrome


SEHARI-hari Sartono Kiswari sibuk sebagai dokter spesialis saraf. Meski demikian, dia tidak ingin menghilangkan aktivitas kemasyarakatan. Pria 70 tahun itu hingga sekarang masih aktif dalam kegiatan di lingkungannya.

Bahkan, sudah puluhan tahun bapak tiga anak itu dipercaya sebagai ketua rukun warga (RW). Sebelum menduduki jabatan tersebut, dia pernah menjadi ketua rukun tetangga (RT).

Menurut Sartono, menekuni kegiatan di sekitar rumah membuat seseorang terbebas dari post power syndrome. Hal itu telah dibuktikannya. Pada 1995 dia menerima pemberitahuan pensiun. Dia tidak bisa menerima kenyataan tersebut. "Waktu itu saya sakit. Sakit betul, sakit," tuturnya sambil memegang dada. Bukan dampak ekonomi yang dipikirkannya. Sebab, sebagai dokter dia masih mampu menghidupi keluarga dari praktik. "Saat itu, saya berpikir nanti orang tidak hormat lagi," ujar pria kelahiran Jakarta tersebut. Dia berencana hendak mengajukan perpanjangan status sebagai pegawai, tidak digaji pun tidak masalah. Yang penting dia tetap memakai seragam dinas.

Seiring dengan waktu, pelan-pelan kakek enam cucu itu menerima dan membiasakan diri dengan keadaannya yang baru. Aktivitas sehari-hari pun disesuaikan dengan agenda baru. Pagi aktif praktik di klinik, sore berada di rumah. Sartono sadar, sudah waktunya dia kembali ke masyarakat. (may/c8/nda)